Depok – Universitas Indonesia (UI) terus melangkah progresif dalam membangun kampus riset berkelas dunia dengan mendorong inovasi yang mendukung kesehatan holistik. Salah satu terobosan yang kini mulai dikembangkan adalah penerapan kebijakan lelap sejenak (napping) sebagai bagian dari strategi promotif kesejahteraan fisik dan mental bagi sivitas akademika.
Tidur saat kerja kerap dipersepsikan negatif, kini mendapatkan tempat sebagai bagian dari manajemen energi dan produktivitas. Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa tidur singkat selama 15–30 menit di siang hari efektif meningkatkan konsentrasi, memperkuat daya ingat, serta menurunkan risiko stres dan kelelahan kronis tanpa mengganggu kualitas tidur malam.
“Ini bukan sekadar tentang tidur. Ini adalah pernyataan bahwa UI membangun budaya akademik yang manusiawi, berbasis bukti ilmiah,” kata Dr. Hening Pujasari, dosen Fakultas Ilmu Keperawatan UI. “Investasi pada lelap sejenak adalah bagian dari kebijakan kesejahteraan (well-being policy) yang telah menjadi perhatian banyak kampus global.”
Kelelahan sebagai Risiko Nyata
Dari sisi kesehatan kerja, Dadan Erwandi, dosen Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM UI, menegaskan bahwa kelelahan kognitif dan fisik merupakan risiko serius dalam dunia akademik.
“Lelap sejenak adalah bentuk micro-recovery yang sangat diperlukan, khususnya dalam lingkungan kerja dan belajar yang menuntut performa tinggi dan keberlanjutan,” ujarnya.
Dalam konteks kampus yang penuh tekanan, baik dari tugas akademik maupun penelitian, napping bukan sekadar pelarian, tetapi solusi strategis. UI menilai pentingnya penyediaan ruang istirahat khusus sebagai bentuk nyata dari kebijakan keberpihakan terhadap kesehatan mental warganya.
“Kampus seharusnya menjadi tempat untuk tumbuh, bukan tempat untuk runtuh”.
“Kehadiran napping zone menjadi simbol bahwa UI serius dalam menjaga keseimbangan kognitif dan emosi.” ujar Ichsan Rizany, mahasiswa Program Doktor Keperawatan UI.
Humanisasi Kampus Modern
Konsep ini sejalan dengan visi UI sebagai world class university yang tidak hanya unggul dalam prestasi ilmiah, tetapi juga menjunjung tinggi kualitas hidup dan well-being warganya. Melalui pendekatan edukatif, penyediaan fasilitas pendukung, dan kampanye budaya istirahat sehat, UI berupaya menjadi pelopor dalam transformasi kampus humanistik.
“Tidur siang saat di kampus? Kenapa tidak! Di era kampus modern, humanisasi akademik menjadi fondasi utama,” kata Juwi Athia Rahmini, mahasiswa doktoral UI.
“Kita butuh ruang untuk memulihkan diri, bukan hanya didorong untuk terus berlari.”
Senada dengan itu, Nunung Nurhayati, mahasiswa doktor keperawatan UI, menyebut lelap sejenak saat kerja sebagai ruang reflektif.
“Setelah lelap sejenak, saya bisa berpikir lebih jernih, lebih fokus dalam meneliti, bahkan muncul ide-ide baru. Ini bukan soal malas, tapi soal efisiensi energi mental,” jelasnya.
Langkah Transformasional
Kebijakan napping ini menjadi bagian dari langkah UI untuk menata ulang lanskap akademik yang lebih sehat, ramah manusia, dan produktif. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diyakini akan meningkatkan daya saing UI dalam ekosistem pendidikan tinggi global. Implementasi area napping di perpustakaan, mushola atau area kampus lainnya dapat menjadi langkah inovatif yang sejalan dengan semangat Asta Cita untuk membangun masyarakat yang lebih sejahtera.
“Kampus masa depan bukan hanya tempat menghasilkan pengetahuan, tapi juga tempat menjaga manusia tetap utuh,” ujar Dr. Hening Pujasari
Dengan inisiatif ini, UI membuktikan bahwa inovasi kampus tidak harus selalu berbasis teknologi tinggi, kadang perubahan besar justru dimulai dari kebijakan sederhana yang berakar pada pemahaman mendalam akan kebutuhan manusia.






Leave a Reply